Bensin Murni

Tadi sebelum rapat saya keluar bentar, daripada ngeluarin mobil yang sudah dapat tempat teduh di parkiran, aku pinjam motornya mas Budi yang kebetulan baru minggu kemarin beli.
Namanya motor baru ya agak gimana….. gitu. Tapi menurut saya perlu diusili. Dia pesen jangan diisi dengan bensin eceran, jawab saya, “Ya siap.” Dipinjam bentar aja kok suruh ngisi bensin pikirku, dan kok malah nyuruh ke SPBU yang harus muter jauh.
Hemm….. Ternyata benar bensinnya memang tipis, pantesan mas Budi ngingetin saya untuk ngisi, mungkin daripada nuntun jauh.
Tapi untung saya melewati penjual bensin eceran, ndak pikir panjang saya lansung reting kiri, namun Mbak Yus yang saya bonceng bilang, “E e… nggak boleh di isi bensin eceran pesennya tadi.” “Alah……. sudah terlanjur…” kataku sambil kakiku mengayuh jagrak samping.
Rupanya si penjual mendengar perdebatanku tadi lalu bilang,” Jangan kuwatir mbak sekarang bensin murni semua, la dulu nyampurnya pakai minyak tanah, dan sekarang harga minyak tanah 5 ribu, sedang bensin 4,5 ribu, kan kita-kita yang rugi.” “Kalau dicampur air?” tanyaku.
“Ya ndak mungkin lo mbak, air kan nanti nggak mau campur sama minyak, air di bawah minyak diatas, kan kelihatan.” jelas sipenjual sambil menerima uang 10 rinbuan saya.
O…o… gara gara minyak tanah langka dan mahal bensin jadi murni rupanya. “Tahu to nanti alasan buat mas Budi mbak….. ” selorohku yang disambut ngakak temen yang aku bonceng.
Pict:…kaltim Filed under Kenalan, pekerjaan | Comments (6)KITHAN RUGI
Barusan ada temenku datang, lama nggak ke rumah, karena mau minta tolong suruh membukakan dan mengganti perban ibunya yang habis operasi kepala (trepanasi) di Solo.
Bunnan sudah hafal dengan temen-teman saya, Pak Haryo begitu Bunnan biasa memanggil, dia 10 tahun lebih tua ketimbang saya, karena saya seumuran atau temen sekolah adiknya yang bungsu.
Sudah biasa saya menyindir atau moyoki biar cepet kawin karena sudah hampir 46 tahun belum kawin, dan dia tinggal serumah dengan ibunya, karena saudara-saudaranya sudah berumah tangga di luar kota. Karena ini lah saya nggojloki biar cepet kawin.
Tapi dasar pak Tar malah mengalihkan mengolok-olok Bunnan katanya belum berani sunat (khitan), ” Wis kelas 4 gak wani sunat, selak alot.” gitu ledek pak Tar pada Bunnan,
(Sudah kelas 4 nggak berani khitan, keburu ulet = guntingnya nggak mempan).
Tapi dasar Bunnan malah ganti ngledek, “Rugi leh sunat yen gak rabi, luwung gak sunat yen gak wani rabi.”
ha… ha ….
saya jadi malu dan tersenyum juga, dan pak tar malah tersipu malu, salah sendiri Bunnan kok dilawan.
(Rugi leh sunat yen gak rabi, luwung gak sunat yen gak wani rabi = rugi mengapa kitan kalau nggak berani kawin, lebih baik nggak kitan kalau nggak berani kawin)
Filed under Kenalan, anak-ku, bunnan | Comments (8)100 Hari Kerja SBY Sibuk Melayat
Ada-ada orang itu bicara, tadi sekelompok orang membicarakan 100 hari SBY bekerja sebagai presiden, namanya orang dari kalangan macam-macam ya komentarnyapun juga macam-macam.
Namanya juga di warung bahasanya pun warungan.

“Dulu SBY barusan jadi presiden banyak bencana alam, kecelakaan pesawat, kecelakaan kereta, kapal hilang, kapal tenggelam, pokok banyak makan korban.” kata pak Pri sambil nyruput kopi panasnya. Pak Pri ini sok tahu memangnya kalau saya pikir, karena sering melontarkan pernyataan-pernyataan yang kadang mbikin jengkel, dan gemes untuk membantah atau menambahain komentarnya, tapi juga nggak bisa disalahkan Pak Pri ini kerjannya Mbecak dan pangkalannya di depan agen koran sehingga hoby Pak Pri untuk membaca tersalurkan dengan gratis, cuma dengan sekedar membantu mengangkat gebokan atau karton-karton dari mobil box kedalam agen koran tersebut, itupun dia dapat imbalan.
“Dan sekarang ni…, belum 100 hari diwarnai banyak tokoh nasional yang meninggal, apa mungkin kena tumbal ya…?” cerocos pak Pri, dan mungkin ini pengaruh bacaannya di satu majalah yang spesialais tentang mistik, yang jadi paforit pak Pri juga.
“Jadi kalau janji-janji SBY belum terealisasi ya jangan nyalahkan SBY, la tokoh-tokoh itu mati juga bukan karena SBY, dan kalau nggak ngelayat ngurusin nanti juga salah.” jawap pak Pri pada pertanyaannya sendiri, yang dijawabnya sendiri.
Saya juga nggak tahu dulu waktu pemiui dan pilpres pak Pri ini memilih apa, tapi yang saya tahu dia sering memakai rompi warna biru yang dibagikan menjelang pemilu kemarin, rompi itu bergambar anak pak SBY.
Dan yang kadang nggak habis pikir pak Pri ini kadang membela SBY tapi kadang memojokan SBY, saya bingung mengapa pak Pri berbuat demikian.
Mungkin saja Pak Pri kebanyakan membaca sehingga sering membatnya kritis, untung dia nggak jadi wakil rakyat, kalau jadi kasihan dia terlalu kritis, terlalu banyak bicara, padahal anggota dewan itu katanya pak Pri juga nggak boleh banyak bicara, kalau banyak bicara itu waktu pemilu saja.
Pak Pri… Pak Pri… kadang ngangenin kadang njengkelin.
Filed under Kenalan | Comments (8)Dahlan Iskan Jadi Dirut PLN, Koran Jawa Pos Turun Harga
Rumah kami sebenarnya nggak berlangganan koran, karena nggak ada penjual yang lewat rumah kami, dan pernah mengajukan pada agen, katanya karena satu jalur cuma saya makanya nggak dilayani karena rugi perjalanan, karena cuma melayani saya thok. Namun solusinya, tiap kali saya pergi ngantar Bunnan sekolah saya sering membeli di dekat sekolah Bunnan, saya sih (maaf nyebut merk) sering dan suka membaca Surya dan Kompas, namun beda dengan Bapak sering nitip JawaPos. Selain murah koran yang saya baca mudah saya pahami dengan bahasa yang mungkin seirama dengan selera saya. Namun beda dengan Bapak lebih suka baca Jawa Pos, dan tabloit berbahasa Jawa. Kalau Koran saya harganya seribu dan 2 ribu rupiah, saya hapal dan Bunnan-pun hapal.
Kemarin koran Bapak yang biasanya harganya 4 ribu rupiah entah mengapa oleh penjual diberikan atau dihargai 3 ribu. Ketika saya tanya,” Kok nggak seperti biasanya?” “Ndak tahu mbak sudah dari sananya.” jawab penjual koran itu. “Mungkin karena Direkturnya jadi Direktur PLN, mungkin saja sekarang jabatan direktur lowong, dan mungkin juga karena nggak menggaji direktur korannya jadi murah mbak…” imbuh penjual tersebut.
“Mahal juga ya mas gaji direktur itu, 1/4 harga koran lo mas.” dukung saya pada pernyataan penjual koran tersebut.
Sambil pulang saya berpikir , di Indonesia ini kebanyakaan Direktur atau kepala Departemen, makanya apa-apa jadi mahal.
“Apa mungkin begitu mas Dahlan Iskan?”
“Mungkin saja penjual koran itu benar.” yakinku.
Filed under Kenalan, nonreni, perjalanan | Comments (7)Pahlawan-Pahlawan Di Balik Kepahlawanan GUSDUR

Saya tadi kebetulan sedang membeli pecel di warung yang biasa buat tonkrongan kakeknya Bunnan, disitu ada Pak Kandar Guru SD yang rumahnya sebelah kiri rumah saya, ada pak Pri tukang Becak, seorang pegawai pertanian yang kantornya pas bertepatan di depan warung, dan satu lagi seorang sopir bus yang saya belum tahu namanya.
“Tanpa di kasih gelar pahlawan Gusdur sudah jadi pahlawan buat saya, la wong setahun gaji saya dulu naik sampek 3 kali, naiknya saja pelan-pelan jadi tiga tahap, jadi nggak bikin geger harga-harga.” kata pak Kandar mengawali topik smpil menyeruput kopi cangkirnya.
“Orang kita itu lucu, dulu yang nguyo-nguyo Gusdur, kok malah sekarang kok yang ngamprahkan jadi pahlawan.” saut Mas Pri si tukang becak, sambil melinting kaosnya yang bergambar salah satu partai (maaf gambarnya binatang).
“BBM dulu waktu Gusdur nggak pernah naik, la… ini??” saut dari sopir bus itu juga.
“Sekarang banyak pahlawan-pahlawan baru, yang mau mempahlawankan pahlawan, sehingga banyak pahlawan berkeliaran.” tegas pegawai pertanian tersebut.
Hemm……… pegawai pertanian ini, lebih gila lagi pikir saya.
Tapi entahlah mana yang pahlawan betulan dan mana yang pecundang betulan, rakyat yang tahu , dan rakyat yang menilai.
Dulu yang menghancurkan kini mempahlawankan, serba repot hidup di negara ini.
Tapi jauh di Jombang sana Gusdur tertawa terkekeh-kekeh, ” Gitu aja kok REPOT.”
Filed under Kenalan, hari ini | Comment (1)
Jalan Pintas Ala Boss-nya Jack
Kemarin temen saya si Jack uring-uringan karena kerja hampir 5 bulan nggak digaji, saya cuma bisa menedengarkan saja, la wong kerjanya nggak pada saya. Tapi saya acungkan jempol pada Jack karena meski begitu dia masih setia bekerja. Meski sedikit ngomel, dan ngomelpun paling beraninya sama saya.
“Enak pak Jo sudah kerjanya sering telat, paling ringan kerjanya malah tiap bulan ganjiannya paling banyak dan paling rutin.” cerocos Jack kepada saya. Saya hanya diam dan dalam hati cekikikan karena ingat saya sendiri pernah kerja pada boss-nya Jack ini dan akhiranya keluar karena nggak betah, bukan urusan gaji namun ada urusan yang nggak enak antara ewuh pekewuh.
Waktu itu saja kekuanggan boss-nya jack ini sudah kembang kempis, padahal tiap hari pemasukan lumayan besar, itu menurut kaca mata kami. Bayangkan bila tiap hari rata-rata ada pemasukan 4-10 juta dalam 1 minggu sudah berapa, 1 minggu cuma kepotong hari minggu. saya pun nggak habis pikir kemana uang-uang itu larinya, belum lagi tagiahan tiap hari yang datang. Hem.. tapi bukan urusan saya, ini saja kalau nggak Jack sambat nggak bakalan saya bicara.
Boss-nya Jack ini dulu kenal dengan sesorang yang mengaku paranormal bisa menggandakan uang, saya waktu itu diceritaain cuma senyam-senyum sambil dalam hati, “Kena kau…..”. Padahal boss-nya Jack ini dulu paling anti tentang dukun semacam ini.
Pada awalnya sih nyetor uang 5 jutaan, dan katanya disimpan dalam almari kuno dan dikunci, dan kuncinya disuruh bawa pulang (maaf lokasi di Kota Solo-Magelang-Pati sana) ,dan disuruh nunggu 3 hari, baru bisa di buka, dan betul 3 hari kemudian uang tersebut berubah menjadi 25 juta. Untuk kali kedua Triknya sama uang 5 juta jadi 25 juta lagi, sampai kali ke tiga uang 10 juta jadi 100 juta.
Ini yang membuat keranjingan boss-nya Jack, untuk kali ke 4 naruh uang hampir 1,5-2 M, sampai-sampai dijualkan 2 kendaraan. Dan saat inilah ditunggu sampai hampir 1 bulan nggak jadi-jadi, malah uang tersebut raib, dengan alasan minyak wangi yang dipakai palsu, kalau semakin banyak uangnya harus semakin bagus juga minyak wanginya. Waktu 5 juta jadi 10 juta dulu pakai minyak wangi yang seharga 750 ribu. Dan kali ini Si dukun minta minyak wangi yang seharga 25 juta. Namun ditunggu sampai 3 bulan bahkan sampai sekarang nggak jadi juga malah si dukun ikutan raib. Barulah boss-nya Jack ini sadar bahwa kena tipu, mau melapor ke polisi malu kedengaran orang-orang, mau melacak si dukun sudah lari dengan sindikatnya.
Hemm..
Hari gini masih percaya jalan pintas, Rasional yang leleh karena meningkatnya kebutuhan.
Filed under Kenalan, pekerjaan | Comments (3)Harga Kelinci Jenis Anggora Jeblok

“Sepi… pasar sepi.” begitu keluh pak Wagiman di pasar hewan tadi pagi.
Pada hari biasa bisa menjual 7-8 pasang kelinci, namun hari-hari ini cuma1-2 pasang, padahal ini musin hujan sudah tiba, mencari makan (rumput) sudah mulai mudah.
Jenis turunan Anggora umur 2 bulan yang biasaanya diahargai 200 ribu, sekarang 75 ribu saja nggak ada yang beli. Padahal jenis ini biasanya jadi paforit pembeli karena jenis yang unggul, selain badanya besar, juga kalau beranak bisa 8-10, jadi cepat kembali modal.
Saya penasaran apa penyebabnya, meski saya nggak tahu sama sekali pasaran hewan beginian, sambil bertanya, pada pak Wagiman siapa tahu dia mau memberitahu.
Dan sekalian membelikan Bunnan yang jenis lokal saja, karena kata Bunnan ngurusnya lebih gampang, tinggal kalau belanja sayur di lipati dua kali, kelincinya sudah ikutan makan.
“Yang punya rumah makan kangkung, kelincinya juga makan kangkung.” kata Bunnan.
He he dasar Bunnan…….
Dan gambar disamping yang jadi pilihan Bunnan.
Setelah saya bayar, pak Wagiman bilang, “Kelinci jenis Anggora nggak laku karena orang-orang sekarang seneng kelinci yang jenis ANGGODO.”
dasar pak wagiman, nggak laku ya bilang nggak laku, kok sampek mengaikatkan sampai urusan ‘cicak dan buaya’.
Tapi mungkin benar juga, karena mungkin kalau ada yang jenis itu, mungkin cepat bertambah banyak, dan cepat bikin kaya.
Ahc…. dasar penjual kelinci
Filed under Kenalan, bunnan | Comments (3)Berhenti Beli Rokok

Tidak seperti biasanya mas Man kesehariannya tanpa merokok, merokok-pun memilih nggak asal rokok.
Namun 2 hari ini dia nggak merokok apa sebabnya nggak ada yang tahu, tiap hari rat-rata habis 2 bungkus, bila sebungkus 10 ribu berarti rata-rata sehari butuh 20 ribu khusus buat rokok.
Banyak yang bertanya namun nggak langsung pada mas Man takut tersinggung, namun mas Man akhirnya dengar juga kasak-kusuk orang-orang.
Baru mas Man bicara, ” Aku leren tuku rokok.”
Dia cuma bicara begitu tanpa penjelasan lebih lanjut, tapi orang-orang ikutan seneng karena mas Man mulai sadar mungkin akan bahaya merokok, tapi entahlah.
Namun mas Man benar-benar berhenti merokok setahu kami.
Namun 2 hari berikutnya mas Man klepas-klepus sambil main catur, daia merokok lagi, terus orang-orang tertawa, “Katanya berhenti merokok?………..”
“Siapa yang bilang mau berhenti merokok?” bantah mas Man.
“Saya cuma bilang berhenti beli rokok, karena kemarin nggak ada duwit, dan sekarang merokokpun minta rokok pak Agus.”
Hemm…
Rupanya mas Man berhenti beli rokok, tapi ganti meminta rokok, dasar orang-orang keburu nyampuri urusan orang.
sumber pictur : romanwebsite.blogspot.com/ 2009/04/stop-meroko.. Filed under Kenalan, hari ini, pekerjaan | Comments (9)Ingin Jadi TKI Ke Korea Dengan Umur 65 Tahun?

Yu Tomblok begitu saya memanggilnya, dia bekerja menunggu tempat kost di jalan Dewi Kunti, dengan saya sudah akrab seperti anak dan orang tua. Orangnya lugu, lucu, apa adanya, tapi kadang mudah marah pada orang yang belum dikenalnya, namun satu Yu Tomblok jujur.
Seminggu yang lalu Yu Tomblok mencari saya, biasanya ada hala yang penting bila begitu, Yu Tomblok berpesan lewat teman saya yang kebetulan dekat dengan kost-an yang dia tunggu.
Yu Tomblok saja menemukan tas, dan dia nggak tahu harus mengembalikan kemana, katanya dalam tas itu berisi surat-surat penting. Dan gara-gara itu sampai-sama ketakutan bila tas yang ditemukan jatuh pada orang yang nggak tanggung jawab.
Ketika saya tanya isi tas itu apa dia menjawab, ” Gester lemah, KTP bank, girik montor, layang Korea, buku nikah Korea, sama uang 26 ribu.”
Saya penasaran lalu saya buka apa isi tas tersebut, dan didalamnya berisi :
- Sertikat tanah
- ATM
- STNK motor
- Paspor Korea
- Dukumen-dukumen panggilan pergi ke Korea
Yu Tomblok bingung, harus bagaimana, harus dikembalikan ke mana, dan bila diserahkan pada orang lain takut malah nggak sampai.
“La yu, sebenarnya sampeyan iso ke Korea yu…, foto iki ditetel diganti fone sampeyan neng kono bayare akeh.” canda saya .
“La opo iso ?, jare lungo mrono kuwi kudu sing jik seger-seger, sing penak disawang, la aku wis umur 65 lo, opo yo payu?” jawab dan tanya yu Tomblok.
“Ahh.. ora, aku emoh gawe susah wong liyo, gek kono di woco sopo sing duwe iki, mesakne yen selak kasep neng Koreane .”
Saya teliti dan baca akhirnya saya menemukan alamat dan nomer telephone pemiliknya, saya beritahu dan tak suruh mengambil sendiri ke yu Tomblok. dan saya pesan wanti-wanti kalau yang ngambil nanti wajahnya nggak sama dengan foto pada Fasfor jangan diberikan. Dan saya pamitan pulang.
Dua hari kemudian saya mampir ke Yu tomblok, dia senyam-senyum bahagia sekali, dia menceritakan bahwa yang ngambil cewknya cantik dan hari ini juga pergi ke Korea, malah si cewek menangis memeluki Yu Tomblok tanda terimakasih.
Dan Yu Tomblok dikasih uang 50 ribu, dan beras 2 liter. Namanya saja Yu Tomblok maunya hadiah itu mau dibagi separoan sama saya, karena ini kerja bareng antara saya dan Yu Tomblok. Saya malah ketawa orang kok kejujuren seperti yu Tomblok.
Yu Tomblok nggak ngarepin hadiah ini semua, cuma dia takut kalua dirangket Polisi karena menemukan barang-barang ini, dan lebih takut lagi bila barang yang ditemukan di curi orang. Ketakuatan Yu Tomblok terbayar sudah dengan ditemukannya pemiliknya, sehingga Yu Tomblok bisa nyenyak lagi tidurnya. Karena selama ini tas tersebut dipakai bantal ketika tidur.
Filed under Kenalan | Comments (11)
Ibu Kadang Seperti Ratu Terkadang Seperti Pembantu
Kebetulan tadi saya ketemu Yus, dia baru saja melahirkan 3 bulanan yang lalu, dan mungkin cutinya sudah habis sehingga saya baru ketemu.
Sudah biasa kami bercanda meski kadang kelewatan, namun itu sudah jadi tradisi kami sehari-hari.
Ibuk Yus adalah istri seorang pegawai yang lumayan punya kedudukan, dan Yus sendiri temen sekantor meski nggak satu ruangan, ruangan kami bersebelahan, tiap saya datang dan pergi saya hampir selalu melewati kantor Yus.
Yus sering menceritakan kehebatan dan kesibukan ibuknya, ibuknya begitu di hormati oleh anak buah bapaknya dan juga saudara, ataupun tetangganya. Mungkin ibuknya Yus ini orangnya grapyak sehingga banyak orang suka. Kalau saya boleh menilai ibuknya Yus ini bagaikan ratu (bagi Yus sendiri, keluarga, maupun tetangngga maupun kolega).
Namun saat ketemu kemarin saya bertanya, ” Anakmu kamu tinggal dirumah dengan siapa?’ jawabnya, “Ibuk.”
“Yang ngganti popok, bikini susu?” Yus jawab, “Ibuk.’
“Kalau kamu tinggal jaga pagi, sore ataupun malam?”‘ Yus tetap jawab, “Ibuk.”
Pokok Yus bila ditanya apa saja tentang anaknya, jawabanya, “Ibuk.”
Terus saya bilang, ” Yus ibukmu kayak Ratu no apapun serba bisa.”
Yus jawab, “Ya tentu dong ibuk-ku…..”
“Yus karena dirumah kamu nggak ada pembantu, ibuk-mu yang ngerjain semuanya, seperti pembantu dong….”
Yus diam, dan nggak jawab matanya berkaca-kaca, ahc….. mungkin saya kelewatan bercanda.
“Ibu-ku adalah Ratu-ku, sekaligus Pembantu-ku.” Mungkin itu yang ada di benak Yus.
Maafkan saya Yus, telah kelewatan.
(gambar ilustrasi diambil dari : http://curtdanhauser.com/AG_Collecting/Fel_BabySister_Big.jpg)
Filed under Kenalan, pekerjaan | Comments (8)