Pak Topa…..
Begitu Bunnan menyebut temenku SMA-ku dulu, dia peternak ayam potong.
Dan kemarin saya habis dari Ngunut mampir di kandangnya, dan kebetulan baru saja kedatangan bibit yang di belinya.
Lucu, Ciat…..ciat……
Suaranya, karena barusan menetas sekitar 2-3 jam yang lalu bahkan, banyak juga yang belum menetas, atau masih merekah mau menetas.
Bibit-bibit ini dibelinya dari Tangerang, karena dari sana lebih sehat dan lebih berkualitas.
Sebenarnya yang dari sekitar Pasuruhan juga ada, namun pak Topa lebih suka yang dari Tangerang.
Dalam 1 mabil box bisa membawa telur sampai 20 ribu bibit (telur).
Dikirim dari Tangerang masih berupa telur, dan tiba dikandang dalam keadaan menetas atau siap menetas.
“Kok nggak anak ayam dari sananya kok telur kalau kemlekeren gimana?” tanya Bunnan pada pak Topa.
“Kalau berupa anak ayam malah banyak yang mati, bingung ngasih makannya la wong perjalanan dari tangerang sampai sini 18 jam.” jawab pak Topa.
“Hayo gimana kita ngasih minum anak ayam sebanyak 2o ribu di perjalanan?” ganti pak Topa bertanya pada Bunnan.
“Kalau disini sudah berupa anak ayam, berarti baru 2 jaman lalu menetasnya, berarti di daerah Ngawi dan Maospati sana dong?” tanya Bunnan kembali.
“Ya begitulah…. dari sana sudah di perhitungkan menetasnya jam-jam segitu.” jawab pak Topa lagi.
“Pinter juga orang Tangerang, bisa memperkirakan kelahiran 20 ribu anak ayam, bersamaan, dan lokasinya milih di daerah Ngawi dan Maospati, dan jamnya milih jam 3-an pagi.” celetuk Bunnan pada pak Topa, yang disambut geleng-geleng pak Topa.