Trik LPG 3 Kg Biar Tidak Gampang Meledak

1471570316p

“Ma…… Pemerintah memutuskan untuk mengganti warna hijau pada tabung gas LPG 3 kg dengan warna kuning, kelabu, merah muda dan biru.” begitu Bunnan selepas pulang mengikuti Pondok Ramadhlon di sekolahnya.

Entah baca, lihat, atau dikasih tahu siapa kok tiba-tiba Bunnan bilang begitu.

“La memangnya kenapa?” penasaran saya ingin lebih tahu maksut Bunnan.

“Biar nggak gampang meletus atau meledak Ma….” jawab dia

“La kamu tahu dari mana kok ngomong begitu?” kejar saya

“Ah Mama… tuh dengar dalam lagu Balonku, dalam lagu balonku ada 5 yg meledak selalu warna hijau.”

Wakakakakakakkakaka, gendheng jugak….
Tapi mungkin bisa juga lo usul Bunnan ini di pertimbangkan…

Dipublikasi di anak-ku, bunnan | Tag | 5 Komentar

Tips Untuk Mengetahui Berpuasa atau Tidak

Puasa baru saja berjalan 3 hari, namun Bunnan sudah bikin ulah.

Tadi di sekolah ketika bu guru tanya, ” Puasa semua anak-anak….”

“Puasa…. Bu……” kompak Bunnan dan temen-temennya gantia berteriak atas pertanyaan gurunya.

“Jangan bohong lo…. dosa nya besar, apalagi di bulan Puasa.” kata bu guru.

“Bu guru bisa lo liat mana yang puasa sama yang puasa, dari raut muka kalian.” kata bu guru dengan rasa kurang percaya atas jawaban murid-muridnya.

“Ahh… gampang Bu Guru, saya pun bisa ngetest orang puasa atau nggak…” kata Bunnan.

“Caranya..?” ganti bu guru yang bertanya.

“Wakakakkak tes bau mulut Bu…., siapa yang mulutnya berbau berarti puasanyapaling nomer 1…” jelas Bunnan yang disambut tertawa seisi kelas.

Dipublikasi di anak-ku, bunnan | Tinggalkan Komentar

TNT Itu Bernama JK

Entah mengapa penjual bakso itu berkata JK, untuk yang 3 Kg ini
mengapa kok nggak SBY-JK?
mungkin JK yang paling getol Kalla itu;
sehingga JK lebih dikenal pedagang bakso

“TNT itu ber-merk JK”

Mungkin Amrozi Cs akan berkata begitu, untuk yang 3 Kg ini
mengapa kok nggak SBY-JK?
mungkin SBY yang getol kala itu;
sehingga JK nggak jadi target selanjutnya

“TNT itu ber-merk JK”

Mungkin kalau namanya KPK, Ayin dan Anggodo nggak bakalan masuk bui, untuk yang 3 Kg ini
mengapa kok nggak SBY-JK?
mungkin kedua SBY-JK nggak getol kala itu;
sehingga di pengadilan dan penjara mereka masih bercanda

(tulisan ini menjawab pertannyaan pak Guru Zappra di YA)

Dipublikasi di Uncategorized | 5 Komentar

Putung Rokok

“Ma… kata kekek dulu, ada orang yang kerjaannya cari putung rokok.” kata Bunnan sambil mengamati putung rokok yang masih separo milik tamu yang sudah dtinggal di asbak.

“La memangnya kakek bilang apa tentang rokok?” ganti saya yang bicara.

“Padahal kata kakek, dulu putung putung rokok itu disetor dan ada pengepulnya kaya barang rosok yang dicari pemulung jaman sekarang.” perjelas Bunnan.

“Aku tadi tanya pada kakek, mengapa sekarang kok nggak ada, kakek menjawab kalau jaman sekarang jaman sudah maju, apa apa sudah murah.” cerita Bunnan pada saya.

“Terus kamu bilang apa lagi?” penasaran saya, pasti ada ujungnya kalau Bunnan lekas mbulet begitu.

“Perokok sekarang lebih pelit kek, la banyak yang pakek pipa kayak kakek, jadi nggak sempet jadi putung, la kebakar semua, gitu Ma…”

“Berhasil dong kamu ngerjain kakekmu?” celetuk saya yang cuma disambut senyuman kemenangan oleh Bunnan.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | 4 Komentar

Sepak Bola Dalam Mulut

Pak Bero, begitu Bunnan menyebut Rumahnya seberang jalan, namun sawahnya di belakang rumah saya.

Tadi sewaktu mengolah sawahnya pas hujan, sehingga pak Bero dan anaknya berteduh di teras rumah saya.

Dan kebetulan diteras ada teman yang kebetulan mampir, sekalian mbuatkan kopi sama tak kasih jajan kacang canghai (bulat-bulat putih), dan kacang goreng.

Berkali kali dipersilahkan namun Pak Bero cuma minum saja, nggak mau makan camilannya. Sampai 5 kali saya mempersilahkan, namun Pak Bero nggak juga mau makan.

Bunnan cekikikan, pasti ada yang nggak beres.

Saya lirik Bunnan, dan segera Bunnan bereaksi.

“Pak Bero kok disuruh makan kacang canghai, apa mau disuruh sepak bola dalam mulut wakakakaka……………” kata Bunnan sambil terus tertawa.

Saya jadi malu sendiri, karena ternyata gigi Pak bero sudah habis, gak ada yang tersisa.

Lalu saya minta maaf atas kelakuan saya dan anak saya, namun Pak Bero malah ketawa juga, karena sudah saling ketemu dan saling bercanda sama Bunnan.

Dipublikasi di anak-ku, bunnan | Tag | 9 Komentar

Badan Gede Doang…….

Pak Die….
Begitu Bunnan memanggil, badannya kekar berotot, dempal dan gemuk, hampir seperti pemain tinju kelas berat, kumisnya satu kepal kata Bunnan.

Siapa yang melihatnya seakan seram, tapi nggak begitu sama Bunnan, mereka akrab.

Tadi siang ada ular kecil sebesar jari kelingking masuk ke rumah pak Die, satu rumah gaduh teriak-teriak, “Ular ular………” yang semakin membuat panik seisi rumah, begitu juga pak Die teriak-teriak sambil pegang sapu untuk menghalau ular tersebut, sedang istri pak Die menaburkan garam di lantai, katanya ular takut sama garam, tapi nyatanya ular malah semakin masuk.

Pas Bunnan main di situ karena anak pak Die pantaran (seumuran) dan teman bermain, namanya anak-anak Bunnan langsung ambil penggaris besinya, lalu “Prak…..” tepat di kepala ular tadi dan ular tersebut mengelijang terkapar dan kemudian mati.

Pak Die lalu menyapu ular yang mati tadi keluar.

“Wah Pak Die cuma besar badan doang…. sama ular kecil wae takut.” kata Buunan mengejek pak Die yang disambutnya dengan kepala geleng-geleng.

Dipublikasi di Uncategorized | 5 Komentar

Ponsel Tidak Patuh

Nggak tahu apa maksut Bunnan, berkali-kali berbicara,”Ponsel sialan nggak patuh, hape karepe dewe.”

“Seharusnya harus nurut yang punya, harus nurut juragannya.” gerutu Bunnan.

“mending tak jual, tak oper tombok saja kalau nggak mau patuh..” terus keluh Bunnan.

Akhirnya saya risih juga dan memberanikan bertanya, “Memangnya hape-mu kenapa?”

“La sms dikirim jam 11 siang kemarin kok baru jam 9  hari baru masuk.” jawab Bunnan.

“Padahal ini masalah penting banget… aku jadi di strap bu Guru….”

Wakakakak…. ternyata operatornya yang ngambek, ndak patuh sama perintah juragannya, Juragan Bunnan wakakakaka…………

Dipublikasi di anak-ku, bunnan | Tag | 7 Komentar

Sepatu

Tadi saya membelikan sepatu Zaky adiknya Bunnan.

Pilih sana pilih sini, akhirnya ketemu, tapi harganya wuh…. melebihi harga sepatu dewasa.

“Kok harganya lebiha mahal di banding sepatu yang lebih gede Mbak?” tanya saya pada pelayan.

“Semakin kecil mbuatnya semakin sulit mbak….” jawab pelayan atas pertanyaan saya.

“O…o….. mesin jahit dan guntingnya juga kecil juga mbak?” tanya Bunnan.

“Mungkin dik….” jawab pelayan pada Bunnan.

“Mungkin juga gunting dan mesin jahitnya makin kecil sehingga mbuatnya juga makin rumit ya mbak, makannya makin kecil makin mahal.” celetuk Bunnan.

Dipublikasi di anak-ku, bunnan | Tag | 7 Komentar

Ngawi Dan Maospati, Syurganya Bibit Ayam Potong

Pak Topa…..

Begitu Bunnan menyebut temenku SMA-ku dulu, dia peternak ayam potong.

Dan kemarin saya habis dari Ngunut mampir di kandangnya, dan kebetulan baru saja kedatangan bibit yang di belinya.

Lucu, Ciat…..ciat……

Suaranya, karena barusan menetas sekitar 2-3 jam yang lalu bahkan, banyak juga yang belum menetas, atau masih merekah mau menetas.

Bibit-bibit ini dibelinya dari Tangerang, karena dari sana lebih sehat dan lebih berkualitas.

Sebenarnya yang dari sekitar Pasuruhan juga ada, namun pak Topa lebih suka yang dari Tangerang.

Dalam 1 mabil box bisa membawa telur sampai 20 ribu bibit (telur).

Dikirim dari Tangerang masih berupa telur, dan tiba dikandang dalam keadaan menetas atau siap menetas.

“Kok nggak anak ayam dari sananya kok telur kalau kemlekeren gimana?” tanya Bunnan pada pak Topa.

“Kalau berupa anak ayam malah banyak yang mati, bingung ngasih makannya la wong perjalanan dari tangerang sampai sini 18 jam.” jawab pak Topa.

“Hayo gimana kita ngasih minum anak ayam sebanyak 2o ribu di perjalanan?” ganti pak Topa bertanya pada Bunnan.

“Kalau disini sudah berupa anak ayam, berarti baru 2 jaman lalu menetasnya, berarti di daerah Ngawi dan Maospati sana dong?” tanya Bunnan kembali.

“Ya begitulah…. dari sana sudah di perhitungkan menetasnya jam-jam segitu.” jawab pak Topa lagi.

“Pinter juga orang Tangerang, bisa memperkirakan kelahiran 20 ribu anak ayam, bersamaan, dan lokasinya milih di daerah Ngawi dan Maospati, dan jamnya milih jam 3-an pagi.” celetuk Bunnan pada pak Topa, yang disambut geleng-geleng pak Topa.

Dipublikasi di anak-ku, bunnan, pekerjaan, Puisi, Sepanjang Perjalanan, Surat | Tag | 5 Komentar

Kebal Karena “Wesi Kuning”

Dunia memang asyik dna bebas, bebas mengungkapkan pendapat, bebas berkarya.

Kemarin sore Bunnan ketika main dirumahnya Opin bapaknya nyuruh membelikan obat nyamuk bakar.

Karena temennya yang didatangi lagi keluar rumah disuruh bapaknya, Bunnan ikut Opin ke Toko berboncengan.

Di perjalanan Bunnan nanyakan, “Pin… katanya bapakmu punya Wesi Kuning katamu, ngapain beli obat nyamuk segala…”

“Katamu kalau punya pusaka gituan, kalau kena bacok nggak mempan, kena jarum nggak tembus?” terus Bunnan bertanya sepanjang perjalanan.

“Kok kalahnya sama nyamuk ya Pin?” tanya Bunnan lagi, namun Opin cuma geleng-geleng.

Karena semingguan kemarin Opin baru cerita sama Bunnan bila bapaknya mempunyai ‘Wesi Kuning’ pemberian kakeknya, dan bila punya barang gituan nggak mempan benda tajam, termasuk bila dibacok.

“Mungkin lupa bacaan doanya Nan….” jawab Opin.

“Mungkin bapakku nggak telaten bila tiap kali ada nyamuk datang harus membaca bacaan doanya.” perjelas Opin.

“Betul juga ya Pin….” kata Bunnan.

Ternyata ribet juga.

Dipublikasi di anak-ku, bunnan | Tag | 2 Komentar