Menguntai Rindu

Februari 5th, 2010

menguntai rindu pada benang layang-layang
putus bukan karena angin menerjang
namun oleh tajamnya benang

……
(bukan begitu maksutku)

Jambret Rajin Ibadah

Februari 5th, 2010

Tadi di jalam Hayam wuruk tepat nya di toko Busana dekatnya tukang las “Bayu Aji”, terjadi penjambretan.

Tas Pemilik toko hanya ditaruh begitu saja, di meja kasir tanpa dijaga dan ditinggal melayani pembeli.

Ada orang berboncengan dan yang satu nggak ikut turun tetapi masih saja negger di motor  dan motor nggak dimatikan, sedang yang perempuan masuk ke dalam, lihat sana lihat sini, pemilik toko membiarkan saja mungkin masih pilih-pilih pikirnya.

Namun tiba-tiba wanita tersebut menyahut tas pemilik toko, dan segera berlari keluar dan langsung naik diboncengan, dan langsung tancap gas.

Wer……………

“Biar … biarkan saja, gak papa betul nggak papa… nggak usah dikerjar.” begitu sipemilik toko berbicara, yang semakin memmbuat binggung orang yang melihatnya.

Begitu baik pikir saya tentang pemilik toko ini.

“Tas tadi isinya sarung sajadah dan mukena yang akan saya pakai shloat Jumaat nanti.” penjelasan pemilik toko.

“Mungkin orang tadi mau Jum’atan nggak punya sarung dan mukena.” sambil geleng-geleng.

“Semoga benar-benar digunakan.” bisik saya sambil mengulurkan uang untuk membayar barang yang saya beli.

Syurga Benar-benar Di Telapak Kaki Ibu-mu

Februari 5th, 2010

Mengapa nggak dari dulu
sejak kelahiran anak pertamaku,
menunggu dan mendampingi ibu-mu
terlambatkah bapak-mu?

aku cuma bisa kerja,
cari duwit, buat keluarga,
peluh, keluh darah dan nanah
sudah biasa..

mengapa tidak dari dulu,,
aku menunggui ibumu
saat melahirkanmu??

mati nggak mati
hidup nggak ngidup
ibu bertaruh nyawa,
menjerit teriak….
sampai sesak
dan kadang terdiam, dan teriak lagi, menahan sakit
dan meski sakit berusaha nggak menahanmu,

alhamdulillah, senyum ibumu
seakan melupakan jeritan yang baru saja memecahkan kaca klinik

peluh, darah, dan nanah,
tak sebanding perjuangan ibumu.

“Syurga betul-betul ditelapak kaki ibumu.” kataku sebelum aku mengadzan dan mengomati-mu

4 Anak SD Melakukan Operasi Sectio Caesar

Februari 3rd, 2010

Seminggu belakangan operasi lagi banyak, yang biasanya cuma 15-an namun hari-hari terakhir melonjak sampai 25-an, mungkin ini pengaruh dari penggunaan Jamkesmas, atau mungkin saja ya musim operasi.

Sampai-sampai hampir kehabisan alat tenun, dan membuat bagian londre dan CSSD bekerja extra keras, dan harus extra hati-hati karena ketika capek semua orang mudah terbakar alias marah.  Kita harus pandai bersikap.

Seperti semalam kami harus ngerjakan Sectio  caesar 4 kali, namun ini tugas ya harus dikerjakan.

Namun meski alat tenun yang seteril masih tetapi baju ganti habis , kami nggak kurang akal, yang laki-laki memakai celana pendek dan  makai kaos dalam, dan yang nggak pakai kaos dalam hanya makai celana pendek lalu pakai scort, toh didalam sana nanti akan ditutup sama jas steril, yang penting kami mengurangi kontaminasi dari luar sedikit mungkin. Dan giliran saya memakai jeans namun saya tekuk sampa lutut.

Meski jengkel dan risih toh akhirnya semua pekerjaan kelar.

Namun salah satu dari kami ada yang pengin marah, mudah tersinggung, mungkin kecapekan kali.

“Kita lucu kayak anak SD pakai celana pendek, lucu dan imut-imut.” cerocos mulut saya yang disambut gerrrrr……….. tetawa yang jadi cairkan suasana.

“4 anak SD ngerjakan Sectio Caesar.” imbuh saya dan semakin menjadikan gelak tawa, maklum waktu sudah menunjukan hampir jam 3 pagi.

ini-kelasku

Jawaban Buat Kangmas Zappra Di YA

Januari 29th, 2010

Jembatan Rindu
“si SatPol PP”

Seperti biasa berkeling
dari gang sampai tempat lapang
sari lorong sempit sampai lorong berpenyakit
dari tempat amis sampai paling najis

“Ini tugas,” katanya dengan lugas
“Ini tugas,” meski terkadang beringas
“Ini tugas,” meski pilih tebas
“Ini tugas,” meski kebablas

tak peduli ‘Holland Bakkery’ yang bergedung tinggi,
mumpung belum punya IMB, bisiknya
tak peduli nasi liwet, mumpung masih anget kata salah seorang diantaranya.

lapak dan gerobak naik truk,
gembel, gelandangan, naik truk
banci entah perempuan atau laki, naik truk
perempuan tua dan lelaki tua, naik truk
“Jangan banyak kata, semua perlu didata.”

lelaki tua si ‘Holland Bakkery” saling pandang dengan wanita tua si “nasi liwet”,
“kita disamakan mereka.” sambil bisiknya, sambil melirik kearah banci yang terus bernyanyi.
“kita sama seperti mereka naik dalam satu truk.” desisnya,

truk satpol pp membawa mereka,
truk satpol pp menjadi jembatan mereka, mereka diperlakukan sama

nonreni, 290110

Semoga mereka membacanya! bolehkah berharap seperti ini?
Oretanku kali ini, kubuat untuk dua orang sahabatku yang saling berjauhan
andaikan raga tuaku ini bisa dijadikan jembatan, aku mau melakukannya. Asal dibayar….hi hi hi hi….

————————
Jembatan Rindu
<kepada yang terbaring dan yang terbanting>

lelaki tua terduduk dibangku tua
gurat-gurat ketampanan membekas
dikerut keningnya yang bidang
menatap nanar pada baling-baling
yang berputar diatas bubungan toko,
…Holland Bakkery;

……………..

perempuan paruh baya,
tertatih-tatih di atas hamparan salju
mencari sekeping rindu
yang terbungkus nasi liwet

dari beras cianjur.

======
ZAPPRA
Bks,280110

100 Hari Kerja SBY Sibuk Melayat

Januari 28th, 2010

Ada-ada  orang itu bicara, tadi sekelompok orang membicarakan 100 hari SBY bekerja sebagai presiden, namanya orang dari kalangan macam-macam ya komentarnyapun juga macam-macam.

Namanya juga di warung bahasanya pun warungan.

dsc00475

“Dulu SBY barusan jadi presiden banyak bencana alam, kecelakaan pesawat, kecelakaan kereta, kapal hilang, kapal tenggelam, pokok banyak makan korban.” kata pak Pri sambil nyruput kopi panasnya. Pak Pri ini sok tahu memangnya kalau saya pikir, karena sering melontarkan pernyataan-pernyataan yang kadang mbikin jengkel, dan gemes untuk membantah atau menambahain komentarnya, tapi juga nggak bisa disalahkan Pak Pri ini kerjannya Mbecak dan pangkalannya di depan agen koran sehingga hoby Pak Pri untuk membaca tersalurkan dengan gratis, cuma dengan sekedar membantu mengangkat gebokan atau karton-karton dari mobil box kedalam agen koran tersebut, itupun dia dapat imbalan.

“Dan sekarang ni…, belum 100 hari diwarnai banyak tokoh nasional yang meninggal, apa mungkin kena tumbal ya…?” cerocos pak Pri, dan mungkin ini pengaruh bacaannya di satu majalah yang spesialais tentang mistik, yang jadi paforit pak Pri juga.

“Jadi kalau janji-janji SBY belum terealisasi ya jangan nyalahkan SBY, la tokoh-tokoh itu mati juga bukan karena SBY, dan kalau nggak ngelayat ngurusin nanti juga salah.” jawap pak Pri pada pertanyaannya sendiri, yang dijawabnya sendiri.

Saya juga nggak tahu dulu waktu pemiui dan pilpres pak Pri ini memilih apa, tapi yang saya tahu dia sering memakai rompi warna biru yang dibagikan menjelang pemilu kemarin, rompi itu bergambar anak pak SBY.

Dan yang kadang nggak habis pikir pak Pri ini kadang membela SBY tapi kadang memojokan SBY, saya bingung mengapa pak Pri berbuat demikian.

Mungkin saja Pak Pri kebanyakan membaca sehingga sering membatnya kritis, untung dia nggak jadi wakil rakyat, kalau jadi kasihan dia terlalu kritis, terlalu banyak bicara, padahal anggota dewan itu katanya pak Pri juga nggak boleh banyak bicara, kalau banyak bicara itu waktu pemilu saja.

Pak Pri… Pak Pri… kadang ngangenin kadang njengkelin.

100 Hari Meninggalnya Diah Ayu Rengganis

Januari 28th, 2010

Diah Ayu Rengganis

ini pesan-ku kes100 kalinya
100 hari doa yang kau minta
mengalun lewat nada-nada sela
berdenting melalui nada dering yang melengking
sendu lewat NSP-mu yang memilu

ini 100 hari kau meninggaklakan semua
kebebasan yang kau punya semula
memasuki gerbang yang penuh malaikat dan iblis yang selalu menjaga
apakah kau tersiksa?
apakah kau gembira?
cuma itu pesan-pesan dan doa yang aku kirim
dengan segala operator yang ada
dari segala ponsel yang aku punya

namun di 100 hari kau meninggal
kamu tetap saja DIAM
tak seperti semasa kau hidup dulu
yang penuh maksut dan ambisi

JKemana Harus Berlabuh..

Januari 28th, 2010

Sampan kecil melabuh
lelaki renta bermandi peluh
pada tiap dayung yang terkayuh
arungi negeri nun jauh

Rimbunan bakau hijau menghampar
dalamnya semak belukar
kala jengking , buaya dan ular
bercengkerama dibalik akar

lelaki renta….
geleng kepala
sauh diambilnya kembali
menengah bukannya menepi
mati di samodra lebih kesatria

biarlah tak melabuh
bakau urung membuatnya berteduh

MBA-nya Mas Zappra

Januari 28th, 2010

Balap Karung, ada yang sudi berkomentar?
Balap Karung
(MBA - Magister By Ajaib)

ketika;
aku , dan dia
mulai melangkah, masih tertidur
sudah berlari,baru terbangun
separuh jalan, mulai melangkah
hampir finish, ……sudah memegang piala

aku tak heran!

tak perlu heran, maksudku.

===========
salam
ZAPPRA

Instan….

4 biji bawah merah, 2 siung bawang putih
ku-kupas membuat mataku panas
ditambah 5 biji cabe lalu kutumis
semakin membuat mata kayak menangis
kumasukan mie basah yang telah kutiris
aduk kutambah telor biar sedikit amis,
sementar anak-ku di punggungku terus menangis
tak sabar menunggu aku menumis.

sementara di rumah sebelahku…
dia panaskan air, buka bungkusnya lalu masukan, lalu sobek bumbu
sebentar kemudian ditaruh di mangkok.
begitu cepat dan praktis.
Namanya saja Mie Instan, selorohku

Biar Tidak Terlalu Haram

Januari 28th, 2010

Ruangan kami adalah ruangan khusus, nggak sembarang orang boleh masuk, dan kalau pun boleh masuk harus mengikuti persyaratan tertentu, dan ini berlaku buat siapa saja termasuk presiden ataupun jendral, harus nurut persyaratan kami.

Namun tadi sore ada seekor ayam yang masuk ke ruangan kami, entah gimana masuknya, namun sebenarnya ini larangan keras.

Dan milik siapa juga nggak jelas, mungkin saja milik masyarakat sekitar tempat kami bekerja.

Ayam ini membuat kami kelabakan, kami harus segara mengejar dan harus bisa memegang ataupun mengusirnya, semua kru berlarian mengejar sehingga ruangan ini jadi amburadul.

namun akhirnya ayam tersebut kena juga, namun hal ini membuat kami bingung, mau dilepas sayang, kalau nggak dilepas milik orang dan haram yang jelas.

Namun mas Ros segera menyembelihnya, dan sambil mulutnya komat kamit membaca do’a.

Saya tersenyum sambil berkata, “Kok komat-kamit?”

“Ya ini doa baca nyembelih ayam biar nggak haram” saut mas Ros.

“Kan ayamnya haram, meski di disembelih dengan cara begitu kan tetep haram?’ bela saya.

“Kalau nggak dengan cara ini haramnya doble, jadi dosanya juga doble.” mas Ros membela diri.

“Biar nggak terlalu haram gitu loh.” imbuh mas Ros.

Ha…. ha… semua semua tertawa

Dan akhirnya setelah selesai dimasak semua ikutan makan termasuk saya.